Perayaan-Natal-Indonesia.jpg

Ucapan Natal dan Nilai Toleransi di Indonesia

oleh: inggil Life Style Monday, 23 December 2019 17:00 p.m.


Mancode - Setiap tanggal 25 Desember, warga Kristiani di Indonesia memperingati Hari Natal. Menjelang perayaannya, seakan menjadi hal rutin banyak perbincangan mengenai haramnya mengucapkan selamat Natal bagi umat muslim. Hal itu pun mengundang suasana yang tidak kondusif mengenai perbedaan terlebih di media sosial.

Bosan rasanya jika membicarakan asas toleransi di Indonesia yang selalu saja dimenangkan para mayoritasnya. Berbagai macam polemik yang membicarakan ujaran kebencian, isu SARA dan intolerasi antar umat beragama seakan menjadi makanan sehari-hari warga Indonesia. Apalagi, saat ini banyak pula praktek jual beli agama dengan tujuan yang tidak baik.

Hal itulah yang saya rasakan tinggal di negara yang katanya menganut nilai Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai seorang yang beragama Islam, saya sendiri dalam menjalankan kehidupan memegang teguh prinsip saling menghormati, karena saya cinta kedamaian. Tidak saling membedakan serta mengadu agama mana yang paling benar.

Bagi saya, setiap agama pasti menganjurkan umatnya untuk hidup berdampingan secara rukun. Tidak ada agama yang memerintahkan untuk berperang, bertengkar, hingga membuat kericuhan.

Sedih rasanya melihat teman dan saudara saya yang merayakan Hari Natal dengan khidmat dan damai justru terusik dengan suasana keras dari mereka yang tak paham nilai toleransi. Padahal, Islam sangat menjunjung tinggi nilai toleransi dan menghargai kepercayaan yang berbeda.

Profesor Muhammad Quraish Shihab, seorang ahli tafsir dan mantan Menteri Agama menyampaikan bahwa polemik saat Natal hanya terjadi di Indonesia. Beliau bercerita saat dulu tinggal di Mesir, ulama-ulama Al-Azhar berkunjung kepada pimpinan umat Kristiani megucapkan selamat Natal.

Lanjutnya, Prof. Quraish Shihab juga menyatakan, jika salah satu ulama besar di Suriah memberi fatwa bahwa Islam adalah agama yang damai. Fatwa tersebut berada dalam satu buku yang diberikan pengantar ulama besar lainnnya, yakni Mustafa Al Zarka’a.

Fatwa tersebut berisikan pesan bahwa mengucapkan selamat Natal itu pertanda hubungan baik antar agama. Tidak ada larangan dalam mengucapkannya selama akidahnya tidak ternodai. Jika hal itu sekadar bagian dari konteks kultur budaya dan refleksi kerukunan, maka silahkan dilakukan karena tidak akan memengaruhi sebuah akidah.

Terasa indah bukan? Jika kita saling menjaga kerukunan antar agama. Tidak ada perdebatan atau pertengkaran karena ini bukan soal mayoritas, namun lebih ke nilai toleransi. Toh, juga mereka yang beragama non Islam juga tidak keberatan dalam perayaan umat muslim.

Baca Juga: Cara Negara Timur Tengah Merayakan Hari Natal


Share To


inggil

inggil

Dec. 23, 2019, 5 p.m.


tags : Natal Toleransi Natal Indonesia Natal 2019 Perayaan Natal Indonesia Hari Natal


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.


Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

you may also like

Technology 9 July 2020 13:00 p.m.

Spotify Kenalkan Fitur Barunya 'Lirik'

Entertainment 9 July 2020 12:00 p.m.

Kembali Aktif Berkarya, SMVLL Rilis Single Let's Go

Entertainment 9 July 2020 11:00 a.m.

Debut Istimewa Biagi dengan Single 'In Your Eyes'