Transformasi Digital Jadi Isu Prioritas Presidensi G20 Indonesia.jpg

Transformasi Digital Jadi Isu Prioritas Presidensi G20 Indonesia

oleh: rachli Technology Monday, 11 July 2022 14:00 p.m.


Mancode - Transformasi digital menjadi isu prioritas dalam Presidensi G20 Indonesia. Hal ini menjadi penting karena bisa sebagai pendukung pemulihan ekonomi paska pandemi COVID-19 pada tatanan global. Oleh karenanya, Indonesia diharapkan berperan aktif untuk mengakselerasi transformasi digital.

Melalui Forum Dialog B20-G20: Gugus Tugas Digitalisasi pada 7 Juli 2022, Presiden dan CEO Ericsson sekaligus Co-Chair of The Digitalization Taskforce B20 2022, Borje Ekholm mengatakan, secara ekonomi, transformasi digital adalah mesin pertumbuhan berkelanjutan.

“Transformasi digital adalah mesin pertumbuhan berkelanjutan yang dapat dimanfaatkan semua perusahaan, termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mencakup sekitar 90 persen bisnis global,” katanya.


Dalam ruang lingkup lingkungan, teknologi digital berpotensi mengurasi emisi CO2 global hingga 15 persen pada 2030 mendatang. Untuk dapat merealisasikan transformasi digital ini, rekomendasi dan mendasar dari gugus tugas adalah untuk mendorong konektivitas universal.

Konektivitas broadband modern merupakan prasyarat untuk digitalisasi. Lanjutnya, konektivitas adalah lansdasan di mana teknologi ekponensial lainnya seperti Internet of Things (IoT), Extended Reality (XR), dan Cloud dapat berkembang.

“Saya akan fokus pada elemen utama dari rekomendasi ini, untuk mempercepat pembangungan jaringan berkinerja tinggi. Kesenjangan terbesar di masa depan mungkin antara mereka yang memiliki akses ke konektivitas dan mereka yang tidak,” jelasnya.

Dalam kesempatakan itu, Borje Ekholm juga mengatakan, gugus tugas mengajak G20 untuk mempercepat pembangunan jaringan berkecepatan dan berkapasitas tinggi dengan menjadikan investasi jaringan sektor swasta sebagai prioritas.

Gugus tugas secara khusus mengajak G20 untuk mempromosikan persaingan yang adil, mempromosikan standar global, dan menghapus hambatan penyebaran jaringan.

“Kami mengajak G20 untuk mempromosikan persaingan yang adil dan berstandar global, karena ketika market tidak dibatasi oleh pemerintah, dan perusahaan bebas untuk bersaing berdasarkan kemampuan mereka dengan standar global, maka teknologi yang paling terjangkau dan dapat dioperasikan akan berkembang sangat cepat,” ucapnya.

Hal tersebut seperti yang terlihat pada industri telekomunikasi dengan standar global The 3rd Generation Partnership Project (3GPP). Di mana, kondisi itu memberikan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan jumlah langganan sebanyak delapan miliar pada standar yang sama.

Di samping itu, 5G saat ini menjadi teknologi seluler penskalaan (scaling) tercepat. Dalam hal kaya fitur, kini seseorang dapat berkeliling dunia dengan satu ponsel. Meski terlihat hebat, namun yang lebih penting adalah ekosistemnya bersifat global.

“Dalam hal keterjangkauan, kita dapat melihat, misalnya, bahwa biaya data telah menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai bagian dari PDB, biaya data satu GB telah turun 40 persen antara 2016 dan 2020,” paparnya.

Untuk menghilangkan hambatan penyebaran, gugus tugas memohon G20 untuk mempertimbangkan meminimalisasi biaya regulasi dan pajak khusus sektor lainnya, menyediakan akses spektrum yang tepat waktu dan terjangkau, serta pemberian izin yang transparan dan efisien untuk infrastruktur digital.

Baca Juga: Pembaruan Portofolio 5G Ericsson Kedepankan Efisiensi Energi

Baca Juga: ‘The 1st Tourism Working Group’ KTT G20 Bahas 5 Pilar Aksi

Baca Juga: Ericsson IndustryLab Prediksi Transformasi Manufaktur 2030




Share To


rachli

rachli

July 11, 2022, 2 p.m.


tags : Transformasi Digital Borje Ekholm Ericsson Presidensi G20 Indonesia


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.



Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

YOU MAY ALSO LIKE