Gerbong-Maut-Bondowoso.jpg

Tragedi Kelam Gerbong Maut Bondowoso

oleh: inggil History Friday, 23 July 2021 13:00 p.m.


Mancode - Kisah pejuang masa lalu Tanah Air untuk merebut kemerdekaan Indonesia selalu menyimpan cerita menarik dan seram di dalamnya. Cerita seram ini tak lepas dari pembunuhan oleh penjajah yang menyimpan banyak tragedi kelam. Salah satunya adalah kisah Gerbong Maut Bondowoso. Stasiun Bondowoso menjadi saksi bisu dalam meninggalnya 46 pejuang Republik Indonesia saat itu.

Pada 23 November 1947, puluhan orang tewas karena disekap di sebuah gerbong kereta yang berangkat dari stasiun Bondowoso. Sebanyak 116 pejuang Tanah Air ditangkap dan disiksa secara tak langsung di dalam gerbong oleh penjajah. Peristiwa itu kemudian dikenang dengan sebutan tragedi gerbong maut Bondowoso.

Tiga tahun sejak Indonesia merdeka, bukan berarti kemerdekaan penuh telah tergapai. Belanda menyatakan sikap belum rela melihat negara jajahannya meraih kedaulatan. Belanda berusaha menguasai aset-aset penting Indonesia, salah satunya ialah jalur perkeretaapian. Ratusan pejuang yang ditangkap kemudian diarak ke Stasiun Bondowoso.


Perlawanan Belanda ini dinamakan Agresi Militer Belanda I yang mana pertempuran kala itu tidak seimbang. Pasukan Belanda datang dengan kekuatan penuh dan senjata yang sangat lengkap. Sementara, para warga Indonesia yang ingin mempertahankan kemerdekaannya hanya bisa melawan seadanya.

Salah satu pasukan Republik yang tak kuasa menahan gempuran Belanda adalah pasukan bernama Semut Merah. Salah seorang anggotanya yang bernama Boengkoes kemudian bergabung dengan Batalyon Andjing Laut di Bondowoso.

Kisah-Gerbong-Maut-Bondowoso.jpg

Tentu saja, dalam operasi tentara Belanda itu banyak pejuang yang tertangkap. Di antara pejuang Indonesia yang tertangkap terdapat Koeswari. Dia seorang Komandan Polisi Maesan, Bondowoso. Menurut keterangan dari buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan di Jawa Timur (1991), Koeswari tertangkap berkat laporan orang-orang Indonesia yang menjadi mata-mata Belanda.

Kala itu, di beberapa pertempuran pasukan republik kalah. Sebagian dari para pejuang ditahan oleh pihak belanda. Mereka ditempatkan di beberapa pusat keamanan belanda semisal Veiligheids Dienst Mariniers Brigade (VDMB) di Jalan Jember, Bondowoso terkenal sebagai tempat penyiksaan.

Kemudian, beberapa tahanan dari VDMB dan lokasi lain dikirimkan ke penjara Bondowoso. Disana mereka ditempatkan di sel bersama yg lainnya.

Gerbong Maut Neraka

Tragedi-Gerbong-Maut-Bondowoso.jpg

Hari itu 23 November 1947, para tahanan diberi makanan oleh para penjaga penjara sebagaimana biasanya, kemudian mereka disuruh kembali ke sel. Mirisnya, inilah momen terakhir mereka makan sebelum kejadian naas ini terjadi.

Keesokan harinya, Pukul 05.15, hari Minggu, para tawanan dikeluarkan dari sel masing-masing. Komandan VDMB, Letnan Dua Marinir J. van den Dorpe, memerintahkan mereka keluar dan berbaris empat-empat di halaman penjara Bondowoso dan mengabarkan mereka akan dipindahkan ke Surabaya.

Tujuan Belanda membawa para tawanan pro-kemerdekaan Indonesia menuju Surabaya ialah untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Selain itu, juga untuk mencegah para tawanan mengulangi perbuatannya serta mencegah mereka melarikan diri dari penjara.

Pukul 05.30 para tawanan yang berjumlah 100 orang itu digiring ke Stasiun Bondowoso. Di stasiun tersebut sudah ada tiga buah gerbong barang yang diperuntukkan khusus untuk mereka. Para tawanan langsung diperintahkan memasuki gerbong-gerbong tersebut tanpa diberi kesempatan sama sekali untuk minum, makan pagi, atau sekedar buang air.

Ketiga gerbong itu adalah gerbong dengan kode GR 10152, GR 4416, dan GR5769. Gerbong pertama digunakan untuk mengangkut 38 orang tawanan. Gerbong kedua mengangkut 29 tawanan, dan gerbong ketiga diisi oleh 33 orang tawanan.

Selama perjalanan itu, para tawanan tidak mendapatkan makan dan minum. Mereka juga tidak memiliki akses udara yang cukup. Sifat gerbong pengangkut barang yang minim ventilasi membuat para pejuang pro-kemerdekaan Indonesia di dalamnya kesulitan mendapat oksigen.

Hasilnya, sebanyak 46 pejuang pro-kemerdekaan Indonesia tewas dalam perjalanan itu. Gerbong pertama dengan kode GR5769 yang sama sekali tidak memiliki ventilasi menewaskan seluruh penumpang di dalamnya yang berjumlah 38 orang. Di gerbong kedua dan ketiga total tawanan yang tewas ada 8 orang.

Di gerbong ketiga, dengan jumlah tawanan terbanyak, beberapa tawanan sudah mulai tak merasakan udara segar lagi untuk bernapas. Karbondioksida dari napas buang tawanan lain harus mereka hirup. Situasi sangat menyiksa, nafas terasa sesak. Menarik nafaspun terasa sia-sia karena seakan tidak ada lagi oksigen yang dihirup.

Mata para tahanan mulai berkunang-kunang, keringat mengucur dan membasahi satu sama lain di tempat yang kecil itu. Melihat teman teman seperjuangannya tumbang, para tahanan yg masih bertahan mencoba menggedor dinding gerbong pertama yang berada dekat dengan gerbong para pengawal dari Belanda untuk minta tolong.

Namun mereka (Belanda) hanya berkata: “air dan angin tak ada, yang ada hanya peluru!"

Perjalanan Terakhir

Museum-Gerbong-Bondowoso.jpg

Saat singgah di Stasiun Jember, jumlah korban yg tewas telah bertambah menjadi 12 orang. Selama pemberhentian itu, gerbong-gerbong tahanan dijemur di bawah terik matahari sekitar tiga jam. Panas, pengap, susah bernafas dan haus menerjang para tawanan.

Perjalanan pun dilanjutkan, Hujan lebat di sekitar Stasiun Klakah membuat sedikit penawar bagi panasnya gerbong maut itu. Ada satu celah kecil seukuran paku disana yang digunakan secara bergantian untuk mendapatkan udara segar.

Kekejaman Belanda berlanjut ketika sampai di Stasiun Probolinggo, para tawanan di dalam gerbong kembali menggedor gerbong. Kali ini mereka menjerit lebih keras, bahkan diceritakan ada pula tawanan yang mencakar dinding gerbong karena tidak tahan. Mereka berteriak bahwa sudah ada 30 tawanan mati.

Namun para serdadu Belanda tidak peduli dan mengatakan “Biar saja mati semua, saya lebih senang seperti itu daripada ada yang masih hidup."

Setelah sekitar 15 jam tersiksa dalam gerbong maut itu, para tahanan pun tiba di stasiun terakhir, Stasiun Wonokromo. Saat pintu gerbong dibuka, ditemukan total korban yang tewas sudah menjadi 46 orang.

Sementara mereka yang masih hidup, 12 orang diantaranya sakit parah, 30 lemas tak berdaya dan hampir hilang kesadaran sementara hanya 12 yang dianggap benar-benar sehat.

Gerbong ketiga menjadi "peti mati" bagi seluruh pejuang yg ada di dalamnya. Ketika sampai di stasiun akhir, saat Belanda memerintahkan seluruh tahanan keluar, gerbong ini sama sekali tidak ada gerakan dan ketika dicek, seluruh tahanan didalamnya telah tewas.

Cerita para pejuang pro-kemerdekaan Indonesia yang disekap Belanda dalam gerbong barang itu kemudian diabadikan di Museum Kereta Api Stasiun Bondowoso. Diresmikan pada 17 Agustus 2016, Museum Kereta Api Stasiun Bondowoso ini menjadi museum perkeretaapian pertama di Jawa Timur.

Baca Juga: Tragedi Jonestown 909 Orang Bunuh Diri Massal

Baca Juga: Bikin Merinding, Ini Kisah Mistis di Lubang Buaya

Baca Juga: Mengenang Kisah Bunker Menangis Gunung Merapi




Share To


inggil

inggil

July 23, 2021, 1 p.m.


tags : Gerbong Maut Bondowoso Jeritan Gerbong Maut Sejarah Gerbong Maut Bondowoso Museum Gerbong Maut Bondowoso Kisah Gerbong Maut Bondowoso


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.



Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

YOU MAY ALSO LIKE