Titimangsa dan Indonesia Kaya Sukses Pentaskan Teater Sundamala.jpg

Titimangsa dan Indonesia Kaya Sukses Pentaskan Teater Sundamala

oleh: rachli Mancave Monday, 12 September 2022 9:00 a.m.


Mancode - Titimangsa bersama Indonesia Kaya suksesi menghadirkan produksi ke-59 yang bertajuk Sudamala: Dari Epilog Calonarang. Pementasan yang terinspirasi dari pentas tradisi Bali yang berakar dari sastra ini dipentaskan pada 10-11 September 2022 di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

Nicholas Saputra dan Happy Salma menyiapkan sebuah pementasan seni tradisi sejak akhir tahun lalu. Selama pandemi, Nico, begitu akrab disapa, menghabiskan banyak waktunya di Ubud, Bali. Dirinya kerap berdiskusi dengan Happy mengenai seni pertunjukan di Bali, termasuk Calonarang.

“Dilihat dari sisi tradisi maupun dari seni pertunjukan: dramaturgi, gerak penari, kostum dan topeng yang dikenakan, serta gamelan yang mengiringi, semua dikreasi dengan detail yang mengagumkan,” kata Nicholas Saputra selaku produser Sudamala: Dari Epilog Calonarang.


Pementasan Sudamala: Dari Epilog Calonarang adalah karya kolaborasi antara 90 orang seniman dan maestro Bali juga kota lainnya. Ini akan menjadi pentas tradisi pertama Titimangsa yang dipentaskan di area terbuka di tengah hiruk pikuk kota Jakarta.

Happy Salma selaku produser turut menyampaikan bahwa untuk membawa seni tradisi keluar dari Bali, dengan tujuan untuk membagi pengalaman yang pihaknya rasakan kepada penonton di Jakarta, tentu bukan hal yang mudah.

“Kami ingin menghadirkan pentas seni tradisi namun dengan tampilan dan bahasa yang universal. Ini juga tantangan bagi kami untuk membuat formula baru dengan durasi yang jauh lebih pendek, karena biasanya pertunjukan seni tradisi bisa berlangsung enam sampai delapan jam,” ujar.

Epilog Calonarang, bertajuk Sudamala, dipilih karena dirasa relevan dengan konteks kini. Sudamala berasal dari kata śuddha yang berarti bersih, suci, atau bebas dari sesuatu; dan mala yang bersinonim dengan cemar, kotor, atau tak-murni.

Oleh karenanya, Sudamala merupakan upaya untuk menghilangkan yang cemar dari subyek. Menurut maestro Calonarang, I Made Mertanadi (Jro Mangku Serongga) yang juga bertindak sebagai Sutradara pementasan sekaligus memerankan Walu Nateng Dirah.

Apa yang akan ditampilkan di Jakarta akan sesuai dengan tradisi kuno yang sudah berlangsung ratusan tahun di Bali, namun dengan tampilan dan sentuhan teknologi modern serta tokoh Bondres yang akan menyampaikan kisah dalam bahasa Indonesia.

“Pementasan ini juga berkolaborasi dengan seniman-seniman seni pertunjukan luar Bali untuk memberikan perspektif dan cara pandang dari kacamata luar Bali,” katanya.

Sementara itu, Renitasari Adrian selaku Program Director Indonesia Kaya juga mengatakan, kecintaan Happy Salma akan dunia sastra dan panggung pertunjukan membuatnya menjadi sosok yang konsisten mengalihwacanakan karya sastra ke atas pentas.

Happy Salma, menurutnya, juga senantiasa mengajak para aktor dan aktris perfilman Indonesia yang biasanya tampil di depan layar kaca, untuk terjun ke seni pertunjukan dan dunia teater. Hal ini merupakan hal positif yang patut untuk dukung karena dapat meningkatkan minat dan wawasan generasi muda dalam panggung seni pertunjukan.

“Sebagai pentas tradisi pertama Titimangsa di Jakarta, pementasan Sudamala: Dari Epilog Calonarang ini menghadirkan rasa dan energi baru dalam menikmati seni pertunjukan. Kami harap, produksi Sudamala: Dari Epilog Calonarang, dapat menjadi sajian yang memberikan dampak positif bagi generasi muda,” ungkapnya.

Baca Juga: Titimangsa Foundation Hadirkan Teater Musikal Inggit Ganarsih

Baca Juga: Indonesia Kaya Cari Seniman Muda Berbakat Lewat Audisi Online

Baca Juga: Indonesia Kaya Jaring 29 Peserta Program Baru “Mentjari Bang Maing dan Djoewita”




Share To


rachli

rachli

Sept. 12, 2022, 9 a.m.


tags : Teater Sundamala Indonesia Kaya Titimangsa


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.



Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA