Templet_Mancode_ (3).jpg

Taliban Ancam Tutup Sekolah Musik di Afghanistan

oleh: fachrul Travel Saturday, 28 August 2021 7:00 a.m.


Mancode - Mahasiswa dan staf di Institut Musik Nasional Afghanistan (ANIM) mengalami ketakutan setelah Taliban mengancam akan melarang musik setelah pengambilalihan negara itu. Pintu sekolah musik yang terkenal ditutup, dan lorong-lorongnya pun menjadi sunyi.

"Semua siswa ketakutan dan khawatir. Mereka jelas mengerti bahwa jika mereka kembali ke sekolah, mereka mungkin menghadapi konsekuensi atau hukuman atas apa yang telah mereka lakukan," ungkap pendiri dan Direktur sekolah, Dr Ahmad Sarmast, mengatakan pada BBC.

Dia mengatakan beberapa siswa telah mengembalikan instrumen mereka ke sekolah ketika Taliban turun ke kota. Ini dianggap lebih aman daripada menahan alat musik mereka di rumah, di mana para Taliban mungkin akan menemukan mereka.


Sekolah musik di ibu kota Kabul telah berkembang pesat di bawah kepemimpinan Dr Sarmast selama lebih dari satu dekade, dan dia dipuji karena membawa musik kembali ke ruang kelasnya setelah pemerintahan ketat Taliban antara tahun 1996 dan 2001.

ANIM adalah pelopor: anak laki-laki dan perempuan diajar di ruangan yang sama, hal yang jarang terjadi di Afghanistan dan mereka berlatih musik klasik Afghanistan dan musik Barat. Anak yatim dan anak jalanan didorong untuk hadir, dan banyak lulusan adalah yang pertama di keluarga mereka untuk menerima pendidikan formal.

Sekolah itu juga merupakan rumah bagi Zohra, orkestra wanita pertama di Afghanistan, yang tampil di depan banyak penonton baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal tersebut segera menjadi simbol identitas baru Afghanistan, dengan kesetaraan dan pendidikan untuk semua.

image.jpg

Tapi sekarang sejarah telah berulang. Afghanistan kembali di bawah kendali Taliban, dan masa depan sekolah dan musisinya tidak pasti alias kelam.

"Ini adalah saat kehancuran impian kita, harapan, inspirasi untuk masa depan," kata Dr Sarmast, berbicara dari Melbourne, Australia, di mana ia telah mengunjungi keluarga sejak pertengahan Juli lalu.

Dr Sarmast bergidik ngeri ketika Taliban menguasai Afghanistan dengan kecepatan kilat pada awal bulan ini. Saat mereka merebut Kabul, Dr Sarmast tahu staf dan muridnya mungkin menjadi sasaran militan dan memerintahkan semua orang untuk pulang.

"Para siswa sangat takut dengan masa depan mereka bukan hanya pendidikan dan program [musik] mereka, tetapi juga tentang kehidupan mereka. Mereka tidak merasa aman di Afghanistan," katanya.

Beberapa staf telah mengawasi sekolah dari jauh, memberi Dr Sarmast pembaruan rutin. Mereka mengatakan kepadanya bahwa kampus telah diserbu oleh pejuang Taliban tetapi tidak dirusak.

Taliban telah mencari Dr Sarmast, yang diakui dan dihormati secara internasional untuk pekerjaan pendidikannya di Afghanistan. Staf fakultas mengatakan kepadanya bahwa militan di kampus telah menanyakan di mana dia dan mengunjungi rumahnya di Kabul tiga kali.

Pejuang Taliban juga mencoba menekan stafnya untuk datang ke sekolah dan menyerahkan kunci. Dr Sarmast, bagaimanapun, menegaskan dia hanya akan bernegosiasi dan berkomunikasi dengan para pemimpin senior Taliban.

Seberapa ketat atau luasnya larangan musik itu belum terlihat, tetapi ada kekhawatiran negara itu akan kembali ke tahun 1996 ketika Taliban melarang sebagian besar musik. Ada hukuman berat bagi mereka yang ketahuan bermain atau mendengarkan musik, instrumen dihancurkan, musisi bersembunyi, dan kaset digantung di pohon.

Afghan-National-Institute-Music.jpg

Taliban telah mengatakan bahwa pemerintah barunya akan lebih modern dan tidak terlalu ekstremis kali ini dan mereka menjanjikan kebebasan bagi perempuan dan keamanan bagi pekerja pemerintah. Namun, para pemimpinnya belum merinci apa artinya itu dalam praktiknya, dan ada beberapa contoh ketika pesan-pesan itu berjalan tidak konsisten dengan perilaku militan Taliban di lapangan.

“Kelihatannya naif, tapi saya masih berharap Taliban bisa belajar dari masa lalu. Tapi harapan saya ini semakin goyah ketika saya melihat apa yang terjadi di lapangan di Kabul,” ungkap Dr Sarmast.

Dr Sarmast melarikan diri dari Afghanistan selama Perang Saudara pada 1990-an, tinggal di Moskow selama 10 tahun dan kemudian Australia di mana ia menjadi orang Afghanistan pertama yang menyelesaikan gelar PhD di bidang musik.

Kembali ke Afghanistan setelah bertahun-tahun di pengasingan, ia bertekad untuk membantu membangun kembali tradisi musiknya yang telah berusia berabad-abad. Serangan bom bunuh diri pada tahun 2014 yang membuatnya terluka parah dan tuli semakin membulatkan tekadnya.

Dr Sarmast percaya bahwa selama lima tahun Taliban berkuasa membuat kehilangan sebagian dari warisan musik Afghanistan, terutama pada generasi muda. Sekarang, setelah membangun kembali keterampilan dan pengetahuan itu di generasi baru maka akan berisiko hilang lagi di era kepemimpinan Taliban.

Baca Juga: Afghanistan Pemasok Opium Terbesar Dunia

Baca Juga: Kisah Menyedihkan Para Pengungsi Afghanistan

Baca Juga: Mewaspadai Gerakan dan Rencana Taliban




Share To


fachrul

fachrul

Aug. 28, 2021, 7 a.m.


tags : Khawarij Wahabi Afghanistan Taliban Dr Sarmast Sekolah Musik Afghanistan


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.



Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

YOU MAY ALSO LIKE

Mancave 5 October 2021 8:00 a.m.

HAJAKA, Komunitas Pecinta Handphone Jadul

Life Style 27 September 2021 10:00 a.m.

Hankook Tire dan YASE Hadirkan Sepatu Daur Ulang dari Ban