Kerajaan-Sumedang-Larang.jpg

Kerajaan Sumedang Larang dalam Kenangan

oleh: rachli History Tuesday, 29 October 2019 13:00 p.m.


Meskipun tidak sepopuler Kerajaan Cirebon, Mataram, Banten, dan Demak, keberadaan Kerajaan Sumedang Larang juga memiliki pengaruh kuat di kalangan masyarakat Sunda dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya Jawa Barat.

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berpusat di Tatar Pasundan, tepatnya di sekitar Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kerajaan Sumedang Larang berdiri sejak abad ke-8 masehi, namun baru menjadi sebuah negara berdaulat di abad ke-16.

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh bercorak Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suyadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Pertama, Kerajaan Tembong Agung. Tembong memiliki arti tampak dan Agung artinya luhur. Kerajaan ini dipimpin oleh Prabu Guru Adji putih pada abad ke XII.

Kemudian, pada masa zaman Prabu Tajimalela, berubah menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam. Prabu Tajimalela pernah berkata ‘Insun medal Insun madangan’, yang berarti aku dilahirkan, aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingannya.

Baca Juga: Indahnya Kokonao Kota Bersejarah yang Terlupakan di Papua

Baca Juga: Menengok 4 Lokasi Wisata Sejarah di Jakarta

Baca Juga: Melihat Sejarah Asli Stasiun Gambir

Sumedang Larang berstatus sebagai bagian dari Kerajaan Sunda dan Galuh antara abad ke-8 sampai abad ke-16 M, di mana penguasanya berada di bawah penguasa kedua kerajaan tersebut. Ibu kota Sumedang Larang saat pendiriannya berada di Citembong Girang.

Agama Islam mulai berkembang di wilayah ini pada masa pemerintahan Pangeran Santri (1530-1578 M). Di masa pemerintahannya, Sumedang Larang bergabung dengan Kesultanan Cirebon. Di tahun 1578 M, puteranya bernama Pangeran Angakwijaya menerima pusaka Pajajaran dan dinobatkan sebagai Raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun. Pusaka pemberian tersebut menandakan Sumedang Larang sebagai penerus sah Kerajaan Sunda.

Menurut Babad Sumedang, yang dinukil Mancode dari Wikipedia, wilayah Sumedang Larang dibatasi oleh Laut Jawa di utara, Sungai Cipamugas di barat, Samudra Hindia di selatan, dan Sungai Cipamali di timur. Kerjaan Sunda runtuh pada 1579 M setelah Pulasari ditaklukan oleh Maulana Yusuf dari Banten. Runtuhannya Kerajaan Sunda menjadikan bekas wilayahnya terbagi antara Kesultanan Banten di barat dan Kesultanan Cirebon di timur.

Dikarenakan terjadinya peristiwa Harisbaya, Sumedang Larang di bawah Prabu Geusan Ulun pada 1585 menyatakan diri sebagai negara berdaulat dan terlepas dari Cirebon. Kemerdekaan Sumedang Larang tidak berlangsung lama hanya sekitar 35 tahun.

Hal tersebut dikarenakan keadaan saat itu yang relatif lemah dan terjepit antara tiga kekuatan besar yakni Banten, Cirebon, dan Kesultanan Mataram. Prabu Aria Suriadiwangsa pada 1620 memutuskan untuk bergabung dengan Mataram, hingga menyebabkan status Sumedang Larang turun dari kerajaan menjadi kabupaten di bawah Mataram.


Share To


rachli

rachli

Oct. 29, 2019, 1:50 p.m.


tags : Sumedang Kerajaan Islam Kerajaan Cirebon Kerajaan Sumedang Larang Perkembangan Islam Prabu Geusan Ulun


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.


Comments


Please Login to leave a comment.


ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

you may also like

Life Style 15 November 2019 17:00 p.m.

Jepang Larang Pekerja Wanita Memakai Kacamata

Technology 15 November 2019 16:00 p.m.

Google Diam-diam Bocorkan Data Medis Jutaan Pasien

Life Style 15 November 2019 15:00 p.m.

Riset: Orang Bodoh selalu Emosi

Life Style 15 November 2019 15:00 p.m.

Memaknai Hidup Layaknya Tokoh Nobita