Kejahatan Siber.jpg

Pentingnya Menjaga Privasi di Ruang Digital

oleh: galih Technology Sunday, 3 April 2022 18:00 p.m.


Mancode - Era digital yang terusbberkembang kini telah membawa pola kehidupan manusia menjadi serbadigital. Mulai dari bekerja, belajar, belanja, hingga hanya sekadar menyapa teman, serta keluarga dilakukan di ruang digital.

Tanpa disadari, digitalisasi memicu sebagian orang berbagi data informasi data pribadi, khususnya di platform media sosial. Ini tentunya berisiko, mengingat rekam jejak digital sulit untuk dihapus.

Menyikapi hal tersebut, Anggota Komisi 1 DPR RI, Syaifullah Tamliha S. Pi., M.S mengutarakan, ruang digital memang memiliki dampak positif dan negatif. Khusus dampak negatif, semua data dalam ruang digital terintegrasi membentuk sebuah sistem yang disebut big data. Data-data tersebut digunakan untuk berbagai kepentingan seperti pengembangan aplikasi, bahkan aktivitas kejahatan.


“Di era digital ini membuat ranah privasi seolah-olah hilang. Data pribadi yang tersimpan di internet, membuat seseorang sangat mudah dilacak keberadaannya, kebiasaan mereka, atau hobi,” jelas Syaifullah dalam Webinar bertajuk “Ngobrol Bareng Legislator : Menjaga Privasi Bersama di Ruang Digital” pada Minggu (3/4/2022).

Menurutnya, penting sekali mengetahui dengan siapa pengguna berbagi informasi sensitif. Hal ini agar mencegah terjadinya ancaman privasi online dari pada mengatur profil seseorang ke akses pribadi.

"Penyalahgunaan, pencurian, penjualan data pribadi merupakan suatu pelanggaran hukum dalam bidang teknologi informasi dan juga dapat dikategorikan sebagai pelanggaran atas hak asasi manusia, karena data pribadi merupakan bagian dari HAM yang harus dilindungi. Beberapa bentuk pencurian data pribadi, di antaranya seperti carding (credit card fraud), ATM/EDC skimming, hacking, cracking, phising (internet banking fraud)," tambahnya.

Beberapa kasus tersebut, lanjut Syaifullah, kini telah banyak terjadi di Indonesia. Misalnya kebocoran data BPJS Kesehatan, kebocoran data e-commerce Tokopedia, hingga penjualan data nasabah oleh BRI Life.

Menurut Syaifullah, ada tiga langkah memastikan data pribadi dan privasi tetap aman ketika berselancar di dunia digital. Pertama, tidak menyebarkan informasi pribadi seperti foto KTP, NIK, informasi keuangan, hingga password media sosial kepada siapapun.

Kemudian, hindari login pada aplikasi atau website yang dianggap mencurigakan, karena dikhawatirkan hal itu merupakan ulah hacker untuk mencuri data. Terakhir, tingkatkan literasi mengenai bentuk-bentuk kejahatan siber, serta cara menanggulanginya.

Di kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Wamentan, Khairi Fuady, S.Sos menyebut bahwa siapa yang menguasai data, maka dialah yang akan menguasai dunia. Tak heran bila pekerjaan data analyst menjadi sangat populer belakangan ini karena dibutuhkan ahli untuk membaca sebuah data. Begitu juga dengan big data expert yang dibutuhkan sebagai ahli membaca data-data.

“Sehingga dampak negatifnya, banyak juga yang menyalahgunakan data. Agar menghindari hal-hal tersebut, kita harus memiliki early warning system yang memberikan peringatan agar tidak sembarangan memberikan data pada aplikasi atau website manapun. Kita hanya boleh memberikan data pada aplikasi yang sudah verified," jelasnya

"Jangan berikan data pada aplikasi kredit yang tidak terdaftar di OJK. Termasuk aplikasi gaming, apabila tidak legal, jangan berikan data apapun pada aplikasi tersebut,” terangnya.

Baca Juga: Menakar Peran Media Sosial dalam Memberantas Kekerasan Online

Baca Juga: Cara Antisipasi Radikalisme di Ruang Digital




Share To


galih

galih

April 3, 2022, 6 p.m.


tags : Dunia Digital Privasi Digital Technology Kejahatan Siber


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.



Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

YOU MAY ALSO LIKE

Entertainment 22 September 2022 12:00 p.m.

'Rasa yang Salah' Kunci Keutuhan Trilogi Single SamSonS

Entertainment 10 September 2022 8:00 a.m.

The Otherside Hangatkan Gelaran Hardcoustic