Demo George Floyd.jpg

Menguak Sentimen Komunitas Asia-Amerika Terhadap Etnis Kulit Hitam

oleh: galih History Friday, 5 June 2020 13:00 p.m.


Mancode – Kematian George Floyd, pria kulit hitam Afrika-Amerika dilutut perwira polisi Minneapolis, Derek Chauvin menandakan sikap kesewenang-wenangan polisi terhadap ras berbeda di Amerika Serikat (AS).

Dalam kejadian tersebut, Derek ‘dibantu’ tiga mantan polisi Minneapolis. Di antaranya Thomas Lane, Alexander Kueng, dan Tou Thao. Mereka telah didakwa bersalah dan telah diamankan.

Sosok Tou Thao, polisi etnis Hmong rupanya jadi perbincangan hangat dalam komunitas Asia-Amerika. Pasalnya, Thao diketahui memiliki rekam jejak terlibat dalam insiden kekerasan terhadap pria kulit hitam, Lamar Ferguson, yang kemudian kasusnya diselesaikan di luar pengadilan dengan uang damai sebesar 25.000 dolar AS.

Kejadian tersebut digambarkan oleh para aktivitis sebagai simbol keterlibatan Asia-Amerika terhadap kebencian warga kulit hitam di Amerika Serikat.

Sejumlah ahli menyatakan saat ini menjadi momen penting bagi warga Asia-Amerika untuk menguak masalah anti kulit hitam dengan cara yang produktif. Dimulai dengan membongkar bias di komunitas mereka sendiri dengan terlebih dahulu menghadapi konteks historis di baliknya.

Kabzuag Vaj, Pendiri Freedom Inc., menggarisbawahi pentingnya mengakui bahwa sementara orang Amerika-Asia-Amerika berurusan dengan bentuk penindasan mereka sendiri, tidak sebanding dengan apa yang dilakukan komunitas kulit hitam.

"Orang-orang tidak memiliki dasar pemahaman tentang apa sebenarnya anti-kegelapan," kata Vaj, seperti dilansir nbcnews.com, Jumat (5/6/2020).

Menurut Vaj, ketegangan antara masyarakat kulit hitam dan Asia telah lama ada. Hubungan yang tegang sebagian, dari yang diatur dalam oposisi satu sama lain sepanjang sejarah Amerika.

“Contohnya kerusuhan Los Angeles yang terjadi setelah empat petugas polisi kulit putih melakukan pemukulan terhadap Rodney King, seorang pekerja bangunan kulit hitam. Kerusuhan tersebut berdampak pada munculnya perpecahan antara pemilik bisnis Korea imigran dan pelanggan kulit hitam yang semakin melebar,” ujar Vaj.

Vaj melanjutkan, ketika Amerika Serikat menerima pengungsi dari Asia Tenggara setelah perang Vietnam, banyak yang ditempatkan di daerah perkotaan yang tertinggal. Di mana kala itu, penduduknya mayoritas yang tinggal adalah komunitas kulit hitam.

“Ketika Anda berada dalam situasi ini, dan Anda hidup di antara orang-orang hitam dan cokelat miskin lainnya dengan sumber daya yang sangat sedikit, ada ketegangan di antara komunitas yang harus berjuang untuk sumber daya yang sama,” kata Vaj.

Sementara, Lakshmi Sridaran, The Executive Director of South Asian Americans Leading Together mengatakan, bagi orang-orang Asia-Amerika untuk menghindari diskusi tentang ras akan membawa hasil yang berbahaya. Terutama ketika masyarakat mengamati meningkatnya kekerasan dan rasisme anti-Asia yang kebencian di tengah pandemi Covid-19.

"Jika kita mengundurkan diri dari diskusi ini, maka kita lebih jauh mengakrabkan diri dalam supremasi kulit putih dan terus membahayakan komunitas warna lain," kata Lakshmi.

Serangan terhadap orang-orang Asia Timur yang tinggal di Amerika Serikat memang meningkat selama pandemi. Hal ini mengungkap kenyataan betapa tak nyaman menyandang identitas sebagai orang Asia di Amerika.

Seperti kisah Tracy Wen Liu, meskipun dia tidak dilahirkan di AS, Tracy Wen Liu dalam kehidupan sehari-harinya merasa 'menjadi warga negara Amerika'. Sebelum pandemi Covid-19, Liu tidak berpikir apa-apa tentang menjadi orang Asia Timur yang tinggal di Austin, Texas. "Jujur, saya pikir saya tidak terlalu menonjol," kata Liu seperti dilansir bbc.

Semuanya berubah total. Merebaknya pandemi yang telah menewaskan lebih dari 100.000 orang di AS, membuat menjadi orang Asia di Amerika bisa menempatkan sebagai sasaran dan banyak orang. Termasuk Liu yang sudah merasakannya.

Dalam kasusnya, Liu mengatakan seorang temannya yang berasal dari Korea didorong dan diteriaki oleh beberapa orang di tempat berbelanja, dan kemudian diminta untuk pergi, hanya karena dia orang Asia dan mengenakan masker.

Di berbagai negara bagian termasuk New York, California, dan Texas, orang-orang dari Asia Timur diludahi, ditinju atau ditendang, dan dalam salah satu kasus bahkan ada yang ditusuk.

Baca Juga: Black Lives Matters Bentuk Perlawanan Rasisme

Baca Juga: Fanatisme akan Membunuh Kita Semua

Baca Juga: Suku Awa: Suku Amazon yang Terancam Punah


Share To


galih

galih

June 5, 2020, 1 p.m.


tags : George Floyd Rasisme History Etnis Kulit Hitam Komunitas Asia-Amerika Demo George Floyd


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.


Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

you may also like

Entertainment 26 October 2020 16:00 p.m.

Merayakan Perilisan Album 'Semenjak Internet' Petra Sihombing

Entertainment 26 October 2020 14:00 p.m.

Bukti Bakat Bernyanyi Syifa Hadju dalam 'Setia atau Bodoh'

Entertainment 26 October 2020 12:00 p.m.

Kisah Proses Video Klip 'Lagu Untukmu' Thavita

Entertainment 26 October 2020 11:00 a.m.

Aransemen Pop Kekinian 3 Composers dalam 'Beri Aku Waktu'