Templet_Mancode_ (3).jpg

Legenda Kekuatan Sayur Lodeh

oleh: fachrul Life Style Wednesday, 24 June 2020 8:00 a.m.


Mancode - Menurut legenda, ketika wabah datang ke kota Yogyakarta, Sultan memerintahkan warganya untuk memasak sayur lodeh dan tinggal di rumah selama 49 hari. Wabah itu pun akhirnya berakhir dan praktik memasak sayur lodeh itu terus berjalan hingga kini.

Sayur lodeh adalah kari sayur sederhana yang terbuat dari tujuh bahan utama dan bumbu santan pedas. Ahli gizi yang telah mempelajari hidangan menunjukkan manfaat tambahan kesehatan seperti lengkuas, yang dianggap memiliki kualitas anti-inflamasi. Mereka menduga bahwa hidangan seperti itu, dibuat dari bahan musiman, mudah didapat, menjadikannya sebagai santapan sempurna selama karantina.

Tetapi yang paling penting tentang perintah Sultan untuk memasak sayur lodeh adalah bahwa hal itu merupakan daya tarik bagi solidaritas sosial. Seluruh kota yang memasak sayur lodeh pada saat yang sama menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.

“Seperti banyak aspek kepercayaan orang Jawa, tujuannya adalah untuk menghindari kemalangan. Menghindari hal-hal buruk diprioritaskan daripada mencapai sesuatu secara individual. Orang Jawa berpikir bahwa ketika tidak ada halangan, kehidupan menjaga dirinya sendiri,” kata Revianto Budi Santoso, seorang arsitek, guru, dan siswa warisan Jawa.

Baca Juga: Mengenal Tari Seblang Ritual Mistis di Desa Banyuwangi

Makanan Jawa secara keseluruhan kaya akan simbolisme. Misalnya, nasi tumpeng adalah campuran daging dan sayuran yang dimahkotai oleh menara nasi kuning berbentuk kerucut. Presentasi hidangan seharusnya mencerminkan tatanan dunia di bawah Tuhan. Nasi kuning adalah hidangan nasi kuning aromatik yang dianggap membawa berkah bagi rumah dan bisnis baru. Dan jamu minuman kunyit mengambil namanya dari kata Jawa yang berarti "doa untuk kesehatan" dan diklaim untuk mempromosikan ketenangan.

Sayur lodeh memperluas simbolisme ini secara linguistik dan numerologis. Masing-masing dari tujuh bahan utama yang ditambahkan ke dasar santan, melinjo (buah seperti zaitun), daun melinjo, labu (sejenis labu), kacang panjang, terong, nangka dan tempe yang memiliki makna simbolis yang berasal dari bunyi suku kata.

Dalam bahasa Jawa, wungu terong wungu (terong) berarti ungu, tetapi juga sesuatu seperti “bangun”. Sedangkan, lanjar dari kacang lanjar (kacang hijau) sama dengan “berkah”. Kumpulkan tujuh item dan memiliki sesuatu yang hampir menyerupai mantra.

Ritual memasak sayur lodeh adalah contoh slametan, sejenis ritual komunal yang diidentifikasi oleh antropolog Clifford Geertz sebagai ciri utama budaya Jawa. Salah satu ciri khas slametan adalah fatalismenya yaitu sayur lodeh dilakukan tanpa banyak harapan bahwa itu benar-benar akan berhasil.

"Ini merupakan respons terhadap kemalangan yang tampaknya akan mengalahkan semua orang. Ini adalah upaya untuk mengurangi, sebanyak menghindari, sesuatu yang mungkin tak terhindarkan. Sangat menarik bahwa sayur lodeh bukan hal yang individual," ungkap Santoso.

Bagi orang luar, salah satu hal menarik tentang keajaiban kisah sayur lodeh adalah betapa tidak ajaibnya sayur itu. Bahan-bahannya adalah daftar hal-hal yang kemungkinan harus dimiliki oleh warga desa Jawa. Mempersiapkan hidangan itu sederhana. Kamu hanya perlu memasukkan semua bahan ke dalam panci, lalu menggantungnya di atas api. Di masa lalu, masakan akan dimulai setelah dua pusaka kerajaan yaitu tombak dan bendera suci, yang konon terbuat dari bahan yang diambil dari makam Nabi Muhammad diarak di jalan-jalan. Saat ini, sayur lodeh lebih seperti makanan biasa. Bersamaan dengan kompleksitas linguistik dan numerologis, ada kepraktisan, jika bukan mundanitas yang dalam, yang membuat selametan ini sangat bertentangan.

Baca Juga: Sejarah Penyerahan Mahkota Binokasih Sumedang Larang

Sementara sayur lodeh mudah dibuat, asal-usulnya terlihat lebih kompleks. Beberapa sarjana percaya bahwa tradisi ini merentang kembali ke masa kejayaan peradaban Jawa Tengah pada abad ke-10, di mana sayur lodeh memungkinkan penduduk untuk berlindung dengan aman selama letusan besar-besaran Gunung Merapi pada tahun 1006.

Sejarawan makanan seperti Fadly Rahman telah mengencangkan sayur lodeh ke abad ke-16. Spanyol dan Portugis memperkenalkan kacang panjang ke Jawa. Yang lain berpendapat bahwa itu adalah "tradisi kuno" yang diciptakan pada abad ke-19. Pada pergantian abad ke-20, para intelektual Yogyakarta berada di jantung Kebangkitan Nasional Indonesia, sebuah periode ketika banyak mitos nasional ditemukan dengan berbagai cara, dirayakan dan diciptakan.

Jika tidak ada yang lain, legenda sayur lodeh diperkuat di awal abad ke-20. Contoh paling terkenal datang dari tahun 1931 ketika, pada masa pemerintahan Sultan HB VIII, Jawa menderita gelombang wabah pes berturut-turut selama lebih dari dua dekade. Tetapi, catatan juga menunjukkan bahwa sayur lodeh dimasak untuk merespons krisis pada tahun 1876, 1892, 1946, 1948, dan 1951. Untuk membuat masalah menjadi lebih rumit, lama kelamaan sayur lodeh menjadi populer di seluruh kepulauan Melayu. Dengan cepat menjadi sulit untuk mengisolasi mengapa, kapan dan bagaimana piringan berevolusi.

Sejarawan makanan Khir Johari percaya bahwa pertanyaan seperti itu tidak relevan.

"Ketika kita melihat sejarah makanan, godaannya adalah mencoba dan bergabung dengan titik-titik sehingga kamu berakhir dengan kisah monosentris. Tetapi mungkin ada banyak pusat penciptaan," jelas Khir Johari.

Bagi Khir Johari, transformasi sayur lodeh menyebar melalui tambalan budaya yang membentuk Kepulauan Melayu menggambarkan interaksi antara makanan, kebiasaan sosial dan lingkungan. Sementara, lahan pertanian subur di sekitar Yogyakarta memasok sayuran yang memungkinkan penduduk desa menghadapi wabah dan letusan gunung berapi, wilayah ini didominasi oleh simpul maritim utama di mana karantina berarti memaksakan isolasi pada wisatawan yang baru tiba. Tampaknya pelaut Jawa bertanggung jawab untuk mempopulerkan hidangan di luar Yogyakarta seperti sup, chowders dan kari seperti sayur lodeh menjadi sangat praktis ketika terjebak di kapal.

Dan hidangan terus berkembang. Di kota-kota Asia Tenggara hiper-urban saat ini, sayur lodeh telah ditemukan kembali sebagai makanan kesehatan. Sayur lodeh juga menjadi hidangan warisan yang menarik perhatian kelas menengah yang tumbuh pesat untuk generasi Instagram, warna kaya sayur lodeh cocok untuk perbandingan, kompetisi, dan citra yang menarik perhatian.

Baca Juga: Suku Awa: Suku Amazon yang Terancam Punah


Share To


fachrul

fachrul

June 24, 2020, 8 a.m.


tags : Sayur Lodeh Pandemi Kuliner Corona


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.


Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

you may also like

Entertainment 21 September 2020 12:00 p.m.

Sounday Coba Raih Peruntungan di Industri Musik Tanah Air

Entertainment 21 September 2020 9:00 a.m.

Fina Phillipe, Presenter Cantik Doyan Touring Jarak Jauh

Entertainment 19 September 2020 9:00 a.m.

Tandai 17 Tahun Berkarya, D’Masiv Rilis Album Terbaru