Laporan Ericsson Sebut Perusahaan di Indonesia Dituntut Tingkatkan Resiliensi.jpg

Laporan Ericsson Sebut Perusahaan di Indonesia Dituntut Tingkatkan Resiliensi

oleh: rachli Technology Saturday, 17 December 2022 12:00 p.m.


Mancode - Ericsson, melalui laporan ‘Future of Enterprise’, menyoroti betapa pentingnya perusahaan bertindak proaktif dan tangguh dalam menghadapi disrupsi. Dalam laporan itu, 42 persen pengambil keputusan saat ini percaya bahwa dalam waktu dekat, mereka akan menghadapi disrupsi pada perusahaan mereka karena bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Ericsson juga melakukan wawancara kepada perusahaan di Indonesia dan menemukan bahwa 52 persen pengambil keputusan percaya hal yang sama. Peristiwa tidak terduga lainnya juga diperkirakan akan menimbulkan tantangan, seperti krisis energi, pandemi, dan konflik global.

Sementara itu, mereka menyadari bahwa kesiapsiagaan sangat penting, terdapat kebutuhan untuk beralih dari strategi reaktif menuju perencanaan resiliensi jangka panjang, serta bergeser dari resiliensi yang berorientasi pada pemulihan.


Patrik Hedlund, Senior Researcher, Ericsson Consumer & IndustryLab, mengatakan, perang, krisis energi, bencana alam, dan pandemi, menjadi semakin kompleks. Sekarang adalah waktu untuk mengadopsi strategi resiliensi.

“Hal ini sangat penting bagi perusahaan jika mereka ingin tetap kompetitif dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Meskipun banyak perusahaan sudah memiliki strategi, laporan ini menunjukkan kebutuhan nyata akan pergeseran dari resiliensi berbasis pengulangan jangka pendek ke strategi berbasis efisiensi jangka panjang,” katanya lewat keterangan resmi yang diterima, Senin (12/12/2022).

Kabar baiknya adalah perusahaan mengambil perencanaan resiliensi dengan serius. Sebanyak 63 persen pengambil keputusan di Indonesia mengatakan perusahaan mereka memiliki strategi yang terdefinisi dengan baik untuk menangani peristiwa-peristiwa disruptif.

Selain itu, 70 persen karyawan di Indonesia berpendapat bahwa dengan melakukan kerja sama yang baik dengan mitra, pemasok, dan lainnya adalah kunci untuk meningkatkan kemampuan tempat kerja mereka dalam menangani peristiwa disrupsi.

Persiapan tersebut didorong oleh digitalisasi dan otomatisasi, karena 81 persen perusahaan yang memiliki strategi resiliensi yang terdefinisi dengan baik telah terbukti menaruh investasi di bidang ini.

Namun, penting untuk mengenali nilai dalam resiliensi proaktif daripada reaktif, sesuatu yang mungkin tidak menjadi bagian dari strategi banyak perusahaan. Pada intinya, terdapat lebih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan mengingat kondisi iklim saat ini.

Sementara itu, Head of Ericsson Indonesia, Jerry Soper menyebutkan, kesiapan teknologi penting bagi perusahaan di Indonesia agar tangguh. Inovasi, digitalisasi, manajemen risiko proaktif, dan kelestarian lingkungan akan memungkinkan organisasi menjadi lebih tangguh.

Lebih dari 60 persen pengambil keputusan di Indonesia mengatakan perusahaan mereka memiliki strategi yang terdefinisi dengan baik untuk menangani peristiwa disrupsi. Hampir 70 persen karyawan di Indonesia sangat yakin bahwa jaringan 5G akan menjadi platform inovasi yang penting untuk pekerjaan mereka.

“Digitalisasi yang dipercepat oleh perusahaan akan memungkinkan ekonomi Indonesia bertransformasi menjadi ekonomi digital,” ujar Jerry.

Baca Juga: Ericsson Soroti Pentingnya Kurangi Dampak Lingkungan

Baca Juga: Ericsson: 5G Jadi Teknologi Terkemuka di Asia Tenggara pada 2028

Baca Juga: Telkomsel, Ericsson dan Qualcomm Dorong Peningkatan Digital Indonesia




Share To


rachli

rachli

Dec. 17, 2022, noon


tags : Resiliensi Perusahaan Ericsson Indonesia


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.



Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA