Suku-Baduy.jpg

Kegelisahan dan Harapan Suku Baduy

oleh: inggil Travel Tuesday, 7 July 2020 16:00 p.m.


Mancode - Setelah sekian lama merasa terusik oleh pariwisata, masyarakat Adat Baduy mengajukan permohonan kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, agar menghapuskan kawasan adat Baduy sebagai destinasi wisata. Mereka berharap wilayah Baduy ditetapkan menjadi cagar alam dan cagar budaya.

Keputusan ini dicetuskan oleh Lembaga Adat Baduy dalam pertemuan di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu siang (4/7) untuk membahas surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.

Surat tersebut berisi tentang permohonan pelestarian tatanan nilai adat Baduy, agar wilayah Baduy bisa dihapuskan dari kawasan peta wisata. Selain itu, masyarakat Baduy meminta agar pemerintah bisa membantu menghapus citra satelit yang ada pada mesin pencarian google atau menjadi restricted area, menghapus dan menjaga foto-foto mengenai beberapa daerah adat yang terdapat di wilayah Baduy.

Warga-Baduy.jpg

Jaro Saidi, salah satu Pemangku Adat di Baduy mengatakan bahwa kehidupan masyarakat Baduy mulai terusik akibat masifnya eksploitasi wilayah Baduy yang tersebar di media sosial.

“Ketenangan mereka terusik karena foto-foto kawasan Baduy yang menggambarkan aktivitas sehari-hari mereka sudah tersebar di internet, bahkan orang orang bisa dengan mudah mencari informasi tentang Baduy di internet,” ungkap Jaro Saidi di vsela pertemuan tersebut.

Lebih lanjut, Jaro Saidi mengungkapkan keresahannya bahwa pencemaran lingkungan di wilayah Baduy semakin mengkhawatirkan. Banyak pedagang dari luar Baduy berdatangan ke dalam, sebagian besar menjual produk makanan minuman berkemasan plastik sehingga mendatangkan persoalan baru.

“Ini terjadi karena terlalu banyaknya wisatawan yang datang, ditambah banyak dari mereka yang tidak mengindahkan dan menjaga kelestarian alam, sehingga banyak tatanan dan tuntunan adat yang mulai terkikis dan tergerus oleh persinggungan tersebut,” ungkap Jaro Saidi.

Perjanjian-baduy.jpg

Pertemuan tersebut juga sekaligus memberikan mandat kepada tim dari luar wilayah Baduy yang dikepalai oleh Heru Nugroho, dan 3 anggota lainnya yaitu Henri Nurcahyo, Anton Nugroho, dan Fajar Yugaswara. Mereka dipercaya oleh Lembaga Adat Baduy untuk bisa menyampaikan aspirasi dan mengirimkan surat terbuka kepada Presiden, beberapa Kementerian dan perangkat daerah wilayah Banten.

Secara lisan, mandat disampaikan langsung oleh Jaro Tangtu Cikeusik, kerap disapa Jaro Alim, yang turut disaksikan oleh Puun Cikeusik dan Jaro Saidi. Selanjutnya diadakan pertemuan dengan lembaga adat Baduy, sekaligus memberikan mandat secara administratif kepada Tim Heru Nugroho, dimana mandat administratif tersebut diberikan langsung dan diwakili oleh Jaro Dangka (Jaro Aja), Jaro Madali (Pusat Jaro Tujuh), dan Jaro Saidi (Tanggungan Jaro Dua Belas).

Heru Nugroho selaku ketua Tim, mengaku sangat antusias dan siap menjadi narahubung aspirasi masyarakat Baduy ke Presiden Joko Widodo.

“Karena kedekatan saya kepada masyarakat Baduy yang sudah terjalin sekian lama, mungkin saya diberikan kepercayaan oleh mereka untuk bisa menyampaikan aspirasinya kepada Bapak Presiden melalui surat terbuka ini,” terang Heru.

Heru menjelaskan dalam kesempatan tersebut agendanya adalah penandatanganan surat terbuka oleh timnya, juga pembubuhan cap jempol yang dilakukan oleh pemangku adat Baduy, di antaranya yaitu Jaro Dangka (Jaro Aja), Jaro Madali (Pusat Jaro Tujuh), dan Jaro Saidi (Tanggungan Jaro Dua Belas).

Warga-Baduy-Foto.jpg

“Setelah proses ini rampung, saya dan tim akan membawa surat tersebut untuk kemudian dikirimkan ke Presiden Joko widodo, Kementerian, dan Pemerintahan Banten. Harapannya semoga pemerintah kita mau mendengarkan aspirasi masyarakat Baduy dan mencari solusi terbaik bagi kelangsungan tatanan adat budaya Baduy,” harapnya.

Heru pun menilai jika wilayah adat Baduy dijadikan Cagar Alam dan Cagar Budaya, dapat meningkatkan nilai dari keberadaan adat Baduy, baik dari segi nilai eksklusivitas produk yang dihasilkan oleh masyarakat Baduy, terpenting bisa menjaga nilai-nilai tatanan dan tuntunan adat Baduy.

Diketahui, kawasan Baduy ditetapkan sebagai destinasi wisata sehingga mendatangkan banyak wisatawan yang ingin menikmati wisata budaya. Namun, meningkatnya kunjungan wisatawan mendatangkan persoalan baru yang jika tidak dilakukan langkah-langkah antisipatif sedari dini, bisa menyebabkan runtuhnya tatanan nilai adat pada generasi mendatang.

Berikut isi surat permohonan masyarakat Baduy ke Presiden Indonesia, Jokowi:

Isi-Perjanjian-Baduy.jpg

Isi-Permohonan-Baduy.jpg

Baca Juga: Makna Tersirat Riasan Pengantin Adat Sunda

Baca Juga: Suku Awa: Suku Amazon yang Terancam Punah

Baca Juga: Kisah Bocah yang Hampir Dimakan Suku Kanibal Papua


Share To


inggil

inggil

July 7, 2020, 4 p.m.


tags : Suku Baduy Baduy Jokowi Masyarakat Baduy Warga Baduy Permohonan Baduy


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.


Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

you may also like