Fraud.jpg

GBG Prediksi Fraud Meningkat Drastis di Indonesia

oleh: galih Technology Monday, 12 October 2020 7:00 a.m.


Mancode – GBG, perusahaan teknologi global dalam manajemen fraud dan compliance, verifikasi identitas, dan intelijen data berbasis lokasi, merilis riset “Future-proofing Fraud Prevention in Digital Channels: an Indonesian FI Study”. Dalam riset tersebut ditemukan bahwa tingkat fraud atau kejahatan penipuan di Indonesia tidak menunjukkan adanya penurunan.

Bahkan, model kejahatan dengan model money mule diprediksi akan meningkat drastis pada 2020-2021. Ini akan berdampak pada konsumen sektor perbankan dan finansial.

Tahun lalu, money mule dinilai sebagai tipe fraud terbesar kedua yang memiliki dampak signifikan kepada institusi finansial di Indonesia. Institusi finansial di Indonesia harus mewaspadai tipe penipuan ini, karena diprediksi akan meroket hingga 68 persen pada 2020-2021.

Money mule adalah jenis penipuan umum yang memadukan scam dengan first party fraud sehingga menjadikannya sulit untuk dideteksi. Salah satu tipe money mule yang marak adalah SMS yang mengiming-imingkan upah jika kamu mau membuka rekening bank untuk membantu mengelola transaksi pihak lain.

Kasus ini sering kali melibatkan rekayasa atau social engineering dan skema first party fraud, penipu memperoleh uang dari korban dengan meminta korban untuk membuka rekening bank dan mengelola transaksi.

GBG juga menemukan bahwa Pemalsuan Identitas (55 persen) dan Pencurian Identitas (53 persen) masuk bersama-sama dengan money mule dalam jenis fraud dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di Indonesia tahun ini.

Melihat hal ini, institusi finansial di Indonesia disarankan untuk lebih menjaga keamanan digital nasabahnya. “Kebutuhan untuk segera melakukan transisi dan mendukung adopsi layanan keuangan digital merupakan tantangan terbesar bagi institusi finansial di Indonesia,” ujar June Lee, APAC Managing Director GBG.

Menurut June, orang Indonesia pada umumnya sangat terbiasa bertatap muka secara langsung. Melalui penelitian tersebut, unbanked, atau segmen yang secara historis tidak menggunakan atau tersentuh layanan perbankan, juga memproyeksikan tingkat pertumbuhan terbesar sebagai fokus segmen pelanggan baru oleh institusi finansial lokal.

Hal ini bukan hanya tentang membuat konsumen beralih menuju adopsi digital, tetapi juga upaya organisasi agar memiliki sarana yang mampu secara inovatif memadukan penilaian risiko kredit seluler dengan teknologi penipuan dan menjembatani kurangnya data.

“Tujuan kami adalah menciptakan keseimbangan untuk meniadakan maraknya pola penipuan digital dan menciptakan lingkungan perbankan digital yang aman bagi masyarakat Indonesia,” tambah June.

Langkah Indonesia Cegah Fraud

Pada saat ini, institusi finansial di Indonesia diperkirakan akan menganggarkan biaya sebesar 88.9 juta dolar untuk berinvestasi pada teknologi pencegahan fraud baru di 2020. Ini membuat Indonesia sebagai negara ketiga dengan budget tertinggi untuk mencegah fraud di Asia Pasifik, setelah Thailand dan China.

GBG sendiri memberikan Digital Risk Management dan Intelligence Platform untuk mencakup seluruh proses digital onboarding dan memonitor perjalanan transaksi pengguna.

Platform ini menawarkan pilihan untuk menambah modul GBG Machine Learning untuk mengurangi false positive dan modul orkestrasi lainnya untuk meningkatkan deteksi fraud dengan deretan solusi. Tujuannya untuk membantu institusi finansial dan pemerintah dalam memerangi fraud, serta kejahatan siber finansial.

Teknologi digital end to end dan compliance memudahkan perbankan dan institusi finansial lainnya untuk memaksimalkan keakuratan deteksi penipuan hingga 30 persen, sehingga pengalaman pelanggan hingga upaya perlindungan di Indonesia dapat ditingkatkan.

GBG berkolaborasi dengan The Asian Banker untuk mengadakan survei di lebih dari 300 institusi finansial di 6 negara wilayah Asia Pasifik. Di antaranya Australia, China, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

Kegiatan tersebut ditujukan untuk menganalisis dampak penipuan pada institusi finansial dan teknologi. Hasilnya akan digunakan untuk mengurangi ancaman penipuan dan cara mereka dalam mengatasi pola atau jenis penipuan baru.

Di sisi lain, institusi finansial di Indonesia tengah memerangi penipuan dan serangan siber yang semakin rumit dan berkembang pesat, bersamaan dengan meningkatnya penggunaan internet. Terutama minat masyarakat Indonesia terhadap layanan pinjaman online (pinjol) yang kini menjadi prioritas teratas bagi 43 persen institusi finansial di Indonesia untuk 2020-2021.

Baca Juga: Awas! Artis K-Pop Jadi Target Serangan Siber Tertinggi

Baca Juga: McAfee Temukan Kejahatan Siber yang Manfaatkan Topik Covid-19

Baca Juga: TOSKA Jadi Inovasi Teknologi Penerimaan Pajak


Share To


galih

galih

Oct. 12, 2020, 7 a.m.


tags : Technology GBG Fraud Indonesia Riset GBG Fraud


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.


Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

you may also like

Entertainment 23 October 2020 12:00 p.m.

Duo Charita Utami & Yudhistira Mirza Rilis “Usai Usia”

Entertainment 23 October 2020 11:00 a.m.

“Kini Hanya Tentangmu”, Sepenggal Kisah Cinta Rizky Billar

Entertainment 23 October 2020 7:00 a.m.

Tetap Digelar, Synchronize Festival 2020 Tayang di SCTV