collegefashion.jpg

Dari Sepatu Karet hingga Sneakers, Ini Kisah Converse (II)

oleh: emil Fashion Style Tuesday, 21 May 2019 10:00 a.m.


Jika mancoders sudah membaca bagian pertama dari artikel ini, kalian pasti sudah mengetahui perjalanan awal Converse. Dari mulai produksi sepatu karet hingga munculnya Chuck Taylor yang menjadi cikal bakal sepatu Converse All Star. Karena itulah namanya bisa tertera di logo sneaker Converse.

Sebagai duta Converse, Taylor pun berkeliling Amerika Serikat untuk mengenalkan sneakers itu kepada para pemain basket. Ia juga kerap mengadakan coaching clinic mengenai permainan bola basket saat tur promosi Converse di Negeri Paman Sam. Popularitas Taylor pun semakin meningkat ketika tahun 1926-1927, kala itu ia juga menjabat manajer pemain di tim basket Converse All Star yang bermarkas di Chicago.

Pada buku Feet and Footweat: A Cultural Encyclopedia (DeMelo, 2009) dijelaskan usaha Taylor selama bertahun-tahun mempromosikan sneakers pun berbuah hasil. Karena sepatu ini banyak dipilih oleh para pemain basket profesional Amerika Serikat saat berlaga di lapangan. Kualitas dari sneakers Converse pun semakin mendunia setelah brand ini dijadikan sepatu resmi perhelatan Olimpiade dari tahun 1936-1968.

Popularitas Meningkat dan Jatuhnya Converse (1941-2001)

flickr.jpg

Saat pecahnya Perang Dunia II, Converse mulai “banting stir” ke industri di bidang militer. Pada 1941, perusahaan ini memroduksi alas kaki, pakaian luar serta baju pelindung karet untuk tentara. Ketika perang berakhir, Converse kembali berfokus memroduksi sepatu olahraganya.

Dari mulai tahun 1950-1960-an, brand ini semakin dekat dengan gaya hidup sporty Amerika Serikat. Khususnya, setelah Converse merilis buku Converse Barketball Yearbook yang memperlihatkan peran sneaker buatan perusahaan ini di kehidupan olahragawan di SMA dan universitas. Tidak lama setelah itu, Converse menjadi sepatu resmi dari liga basket Amerika Serikat atau National Basketball Association (NBA) .

Pada 1970, Converse membeli hak merek dagang dari sneaker Jack Purcell (mantan juara dunia badminton) dari perusahaan B.F. Goodrich. Dari sinilah, sneaker Converse low-top lahir. Sayangnya, penguasaan pasar Converse di dunia sepatu olahraga pun mulai berakhir di tahun yang sama.

Meningkatnya popularitas Puma, Adidas, dan Nike di era 70-an, membuat Converse mulai tergeser. Karena itulah krisis finansial pun mulai terasa oleh pihak perusahaan dan di waktu yang sama para pemain basket profesional pun melirik sneaker produksi para kompetitor Converse.

Baca Juga: Justin Bieber Rilis Clothing Line Sendiri

Converse kemudian memutar otak dan mulai menargetkan pasar baru untuk sneaker-nya pada tahun 1980-an. Targetnya adalah para skaters, seniman, dan pecinta streetwear, khususnya yang menyukai sepatu dengan gaya retro. Walau sempat terselamatkan dengan target pasar yang baru tersebut, krisis finansial masih terus menghantui Converse hingga tahun 1990-an.

Walau sempat bertahan karena hutang, keadaan finansial Converse pun semakin buruk di tahun 2000. Puncaknya pada 22 Januari 2001, di mana Converse mengajukan kebangkrutan. Pada 30 Maret di tahun yang sama, perusahaan ini menutup pabrik terakhirnya yang ada di Amerika Serikat Sam dan mengalihkan semua produksi ke luar negeri.

Converse di Bawah Manajemen Nike (2003-Kini)

Sebagaimana dilansir dari Associated Press (28/1/2019) pada April 2001, investor Marsden Cason dan William Simon melalui perusahaannya, yakni Footwear Acquisitions melihat ada kesempatan untuk menyelamatkan Converse dari kebangkrutan. Mereka pun membeli brand tersebut.

Sayangnya, keadaan Converse pun tidak banyak berubah usai pembelian tersebut. Namun, kebangkitan brand ini baru mulai terasa ketika perusahaan Nike melakukan akusisi terhadap Converse pada Juli 2003 dengan biaya USD309 juta.

zimbio.jpg

Di bawah manajemen Nike, Converse pun mulai melebarkan bisnisnya ke pakaian olahraga selain sneakers. Nike pun terus memasarkan Converse sebagai bagian dari casual fashion dan hal ini terbilang berhasil. Nike memangkas biaya produksi yang mahal di Amerika Serikat dengan mengoperasikan pabrik manufakturnya di negara dengan biaya pekerja yang lebih murah seperti di China, Vietnam, India, dan Indonesia.

Walau semenjak November 2012, Converse nyaris lenyap “gaungnya” dari NBA, di bawah manajemen Nike popularitas Converse justru stabil di kalangan pecinta streetwear. Nama brand ini juga semakin populer di kalangan milenial usai Rihanna, Snoop Dogg dan Kristen Stewart terlihat menggunakan sneakers Converse.

Baca Juga: Dari Sepatu Karet hingga Sneakers, Ini Kisah Converse (I)


Share To


emil

emil

May 21, 2019, 10:44 a.m.


tags : Sneakers Converse sepatu sneaker


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.


Comments


Please Login to leave a comment.


ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

you may also like

Entertainment 6 December 2019 17:00 p.m.

Opera Gandari Padukan Ragam Unsur Seni

Entertainment 6 December 2019 16:00 p.m.

Pegolf Thailand Bidik Kemenangan BNI Indonesia Masters 2019

Technology 6 December 2019 15:00 p.m.

Trend Micro Tema Utama Keamanan Siber Masa Depan

Entertainment 5 December 2019 17:00 p.m.

Opera Gandari Suguhkan Pertunjukan Opera Baru