Barang Mewah Belum Tentu Kualitasnya Baik, Benarkah.jpg

Barang Mewah Belum Tentu Kualitasnya Baik, Benarkah?

oleh: aulia Fashion Style Monday, 20 May 2019 11:00 a.m.


Jika kalian mendengar kata mewah, mungkin kalian juga memikirkan kualitas yang terbaik dari sebuah produk. Sebab memang brand fashion ternama membangun imej dan produknya menggunakan bahan-bahan terbaik serta pengrajin andal. Kemudian, brand fashion ini menghargai proses pembuatan produknya dengan harga tinggi. Dengan demikian, terciptalah kesan premium untuk para konsumennya. Namun dengan berkembangnya zaman, hal-hal tersebut sudah berubah.

Menurut Founder StyleZeitgeist dan Kolumnis untuk Bisnis Fashion, Eugene Rabkin mengatakan bahwa “saya sangat menyukai fashion dan sebagian uang saya habiskan untuk itu, karena saya yakin barang mewah mempunyai kualitas yang lebih baik. Tapi, saya tidak bisa berpikir seperti itu lagi sekarang,” ujarnya seperti yang dikutip dari fashionbeans.com (13/2/2019).

Semakin mahal barang yang dimiliki, tentu imej kalian akan semakin tinggi. Bukan hanya untuk gengsi semata, bahkan barang-barang mewah ini bisa jadi salah satu tolak ukur keyakinan dan kredibilitas dalam hubungan bisnis. Menggunakan barang mewah juga kerap kali jadi tanda kesuksesan.

Misalkan saja, Mancoders menggunakan produk dari brand Volvo, tentunya kalian yakin atas kualitas dan keamanan kendaraan tersebut. Atau jika kalian menggunakan Rolex, pastinya imej kalian akan semakin baik. Kalian akan dinilai sebagai orang sukses karena menggunakan jam tangan mewah

Baca Juga: Brand Topi Pria untuk Fashion yang Sophisticated

dengan harga selangit. Begitu pula jika kalian membeli jaket kulit dari Saint Laurent, mungkin kalian berpikir hal tersebut adalah bentuk investasi untuk sebuah karya seni.

Rabkin menuturkan, selama dekade terakhir ini, beberapa brand mewah memanfaatkan asumsi ini untuk meraup keuntungan yang lebih banyak, “harganya tetap mahal, namun kualitasnya menurun.” jelasnya.

20 merk fashion ternama berhasil mendapatkan 97 persen keuntungan. Untuk mencapai keuntungan ini, mereka harus melakukan dua hal. Pertama, mereka harus menaikkan harga dan yang kedua menurunkan kualitas bahan baku. Menurut Rabkin, mereka telah melakukan keduanya.

Untuk menjual produk dengan kualitas murahan dengan harga tinggi, mereka melakukan berbagai cara. Beberapa di antaranya adalah dengan mengadakan fashion show, kampanye, dan melakukan kerja sama dengan influencer sehingga dapat meningkatkan visibilitas mereka dibanding kualitas.

Karena itulah, sekarang produk dari brand ternama tak lagi terlihat eksklusif, tapi justru terlihat seperti merchandise. Sebagai contohnya, kalian bisa melihat Gucci, dulunya brand ini menjual produk kulit dengan kualitas terbaik, namun sekarang pembeli Gucci banyak datang dari kaum milenial, di mana mereka bukanlah target konsumen produk Gucci.

Kaum milenial mampu membeli kaos, sweater, jaket, baju olahraga, casing telpon genggam dalam jumlah banyak. Sayangnya, kaos dan casing telpon genggam yang kebanyakan terbuat dari plastik, jauh dari kata mewah.

“Semua berkat tren,” ujar Editor hypebeast.com Chris Morency. “Jika suatu produk viral dan jadi tren, tidak peduli apa bahannya, jika ada yang berminat pasti terjual habis,” jelasnya.

Morency memberi contoh nyata, yaitu kaos Supreme yang berhiaskan logo besar di bagian tengah. Jika melihat harga di pasaran saja, harganya bisa mencapai £500 atau setara dengan Rp9 jutaan.

“Harga tersebut tidak diambil dari bahan baku maupun pengrajin di baliknya, harga tersebut tercipta berkat nilai sosial di sekitarnya. Namun sistem ini hanya berlaku untuk beberapa produk di jangka waktu tertentu,” kata Morency.

Untuk menciptakan tren, sebuah brand harus memiliki kuota tersendiri. Supreme hanya menciptakan beberapa produk, sangat sedikit jika dibandingkan keinginan para konsumennya. Sehingga proses mendapatkan barang tersebutlah yang dianggap eksklusif.

“Pada tahun 1950-an, yang disebut barang mewah merupakan barang yang menggunakan bahan terbaik dan dibuat oleh pengrajin dengan tangan,” ujar Luke McDonald, Penata Gaya Thread.

Beberapa brand ternama memang masih mempekerjakan pengrajin pakaian untuk produk mereka, namun lebih banyak lagi yang tidak menggunakan sistem ini untuk memproduksi produk karena alasan banyaknya biaya produksi sehingga produsen merugi. Maka dari itu, beberapa brand lebih memilih menggunakan dana produksi untuk membangun imej brand agar tetap terlihat mewah walau menggunakan bahan yang murah.

Menurutnya, brand mewah yang memiliki kualitas bagus sudah tak sebanyak dulu, bahkan sulit untuk dicari. Namun jika kalian bertanya, McDonald merekomendasikan produk ciptaan Yohji Yamamoto. Menurutnya produk ciptaan desainer asal Jepang ini memiliki kualitas yang amat baik, begitu pula dengan hasil karya Jun Takahasi.

“Kalian harus memikirkan dengan baik sebelum mengeluarkan uang,” ujar McDonald. Menurutnya, akan percuma jika kalian membeli barang yang mahal karena tren, karena jika ‘masa’nya sudah habis, produk tersebut sudah tak bisa lagi digunakan. Bahkan sudah tak ada lagi harganya.


Share To


aulia

aulia

May 20, 2019, 11:39 a.m.


tags : supreme Gucci Barang Mewah


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.


Comments


Please Login to leave a comment.


ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

you may also like

Life Style 15 November 2019 17:00 p.m.

Jepang Larang Pekerja Wanita Memakai Kacamata

History 15 November 2019 16:00 p.m.

Kesederhanaan dan Kecantikan Hati Sandra Dewi

Technology 15 November 2019 16:00 p.m.

Google Diam-diam Bocorkan Data Medis Jutaan Pasien

Life Style 15 November 2019 15:00 p.m.

Riset: Orang Bodoh selalu Emosi