Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Gaungkan Kuliner Komunitas Adat.jpg

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Gaungkan Kuliner Komunitas Adat

oleh: rachli Travel Wednesday, 7 September 2022 10:00 a.m.


Mancode - Makanan sederhana sering kali tampak menggugah selera. Begitulah yang terjadi pada kuliner komunitas adat. Tanpa perlu boros bumbu atau bahan impor yang mahal, masakan mereka menonjolkan kekayaan rasa yang otentik.

Menurut Silvy Motoh dari Aliansi Masyarakat Adat (AMAN), komunitas adat merasa tidak percaya diri akan kekayaan kulinernya. Mereka berpikir bahwa makanan sehari-harinya terlalu sederhana untuk disajikan bagi tamu yang datang dari kota.

“Ketika kami mengadakan acara di kampung mereka, mereka berusaha keras untuk memasak makanan modern. Padahal, kuliner masyarakat adat merupakan pengetahuan berharga yang perlu dilestarikan,” katanya beberapa waktu lalu melalui keterangan resmi yang diterima.


Selain itu, menurut wanita yang berasal dari Sulawesi Tengah ini ada dua kategori kuliner masyarakat adat, yaitu masakan yang biasa disajikan ketika ritual atau upacara adat (seperti kedukaan, pernikahan, kelahiran), dan masakan untuk konsumsi sehari-hari.

Sajian untuk ritual biasanya memiliki makna tersendiri. Memasak daging sapi, misalnya, hanya bagian tertentu yang dipilih, kemudian disajikan kepada para tetua adat. Berbeda dengan masakan harian, bahan dan proses memasaknya cenderung mudah.

Untuk meramaikan kegiatan AMAN, tiga alumni Masterchef Indonesia (MCI) diundang untuk memasak ulang makanan khas masyarakat adat. Mereka adalah La Ode (alumni MCI musim 8), Fifin Liefang (alumni MCI musim 6), dan Jordhi Aldyan Latif (alumni MCI musim 6).

La Ode ditantang untuk memasak manok pansoh dari Kalimantan Barat, sedangkan Fifin Liefang dicoba untuk membuat uta kelo dari Sulawesi Tengah, serta Jordhi Aldyan Latif diuji untuk memasak rumpu rampe dari Nusa Tenggara Timur.

Festival kuliner hingga kompetisi memasak

Selain melalui festival kuliner, menurut Silvy, maraknya reality show kompetisi memasak bisa menjadi kendaraan yang tepat untuk mempromosikan makanan komunitas adat. Misalnya, peserta diminta membuat makanan dari daun kelor, jangan melulu dari bahan impor.

“Dengan begitu, peserta bisa bantu mempromosikan daun kelor, sekaligus mendorong mereka untuk menggali kembali identitas dirinya yang berasal dari daerah,” ucapnya.

Namun di samping itu, makanan komunitas adat boleh saja dikomersialkan. Asalkan, pemilik pengetahuan akan kuliner tersebut, yaitu Masyarakat Adat, tidak dikesampingkan dan tetap mendapatkan benefit.

“Ini kan pengetahuan mereka. Jangan sampai makanan kaya budaya seperti ini diklaim sebagai menu khas mereka oleh orang yang punya modal besar. Padahal, cara memasaknya sudah dimodifikasi mengikuti selera pasar, sehingga cita rasa aslinya tidak lagi terjaga,” ujar Silvy.

Baca Juga: Hotel Ini Hadirkan Kuliner Langka Khas Banten, Tertarik Mencoba?

Baca Juga: Nikmati Perpaduan Kuliner Nusantara dan Western Food di HSPB

Baca Juga: Dari Usaha Sederhana, Deni Tandi Kembangkan Kuliner Ayam Penyet Ria Hingga Mancanegara




Share To


rachli

rachli

Sept. 7, 2022, 10 a.m.


tags : Kuliner Komunitas Adat Aliansi Masyarakat Adat Nusantara AMAN


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.



Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA