Templet_Mancode_ (3).jpg

Alasan Mengapa Orang Prancis Suka Mengeluh

oleh: fachrul Life Style Thursday, 5 November 2020 7:00 a.m.


Mancode - Di Prancis, keluhan adalah awal percakapan yang pantas dan sering. Tetapi kesesuaian tentang kapan, kepada siapa, dan tentang apa yang harus dikeluhkan menjadi sebuah seni yang rumit.

Banyak percakapan di Prancis dimulai dengan desahan dan ratapan seperti membahas cuaca yang buruk, panen anggur yang buruk, politisi yang tidak kompeten dan lain-lain. Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa orang Prancis selalu dalam suasana hati yang buruk? Tetapi mereka menolak jika dianggap sebagai pengeluh setiap saat. Mereka mengaku bukan pengeluh, mereka adalah râleur.

Di Prancis, ada beberapa kata untuk "mengeluh" ada "se plaindre", digunakan untuk keluhan lama yang biasa, ada "porter plainte", untuk mengeluh secara lebih resmi. Dan kemudian, ada "râler" yaitu mengeluh hanya untuk kesenangan saja.


"Râleris informal, bahkan curmudgeonly (berpikir menggerutu)," jelas Dr Gemma King, dosen senior bahasa Prancis di Australian National University dan editor blog Les Musées de Paris.

"Kamu mungkin ragu melakukan sesuatu tetapi tetap melakukannya (meskipun dengan enggan), sedangkan porter plainte menyiratkan bahwa kamu tidak akan melakukan sesuatu dan seseorang akan mendengar alasannya," tambah Dr Gemma King.

Di Prancis, keluhan adalah pembuka percakapan yang pantas dan sering. Seseorang dapat mulai berbicara tentang sebuah restoran dengan berfokus pada layanan yang buruk saat makan enak, atau menyoroti fakta bahwa jendela yang menghadap ke timur di flat baru kalian yang berarti kamu harus membeli tirai baru segera.

Namun, seperti yang dijelaskan oleh Julie Barlow, jurnalis Kanada dan penulis The Bonjour Effect, "Bagi orang Amerika, mengatakan sesuatu yang negatif terdengar seperti kamu menutup percakapan. Di Prancis, komentar semacam itu dianggap sebagai "cara untuk mengundang pendapat orang lain". Orang Amerika, tidak nyaman dengan konfrontasi atau dengan kritik seperti orang Prancis.

Anna Polonyi, seorang penulis dan kepala departemen penulisan kreatif di Paris Institute for Critical Thinking, mengemukakan bahwa perbedaan ini mungkin berasal dari ketakutan inti yang dimiliki oleh banyak orang Amerika yaitu dianggap sebagai "pecundang". Tidak ada kata untuk itu di Prancis. "Untuk menjadi pecundang, dunia di sekitar kalian perlu memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan kemenangan. Dan aku tidak yakin bahwa itu menjadi cara orang melihat interaksi sosial (di sini)," tambah Anna Polonyi.

Di Prancis, percakapan malah bisa disamakan dengan sebuah "duel", menurut Julie Barlow.

Anna Polonyi mengalami hal ini secara langsung ketika dia pindah dari Prancis, tempat dia dibesarkan, ke Iowa, AS. Di sana, Anna memperhatikan orang-orang berusaha menahan diri dari ucapan negatif semampunya dan mereka hanya melontarkan rentetan keluhan ketika keluhan itu sudah tidak bisa mereka tahan lagi.

Baca Juga: Riset: Orang Bodoh selalu Emosi

Baca Juga: Riset: Satu dari Tujuh Anak Alami Kelainan Jiwa

Baca Juga: Riset: Petani Doyan Seks Dibanding Profesi Lainnya




Share To


fachrul

fachrul

Nov. 5, 2020, 7 a.m.


tags : Prancis Riset Emmanuel Macron


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.


Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

YOU MAY ALSO LIKE