The 11th Borobudur Writes and Cultural Festival Angkat Pemikiran Arkeolog Hariani Santiko.jpg

The 11th Borobudur Writes and Cultural Festival Angkat Pemikiran Arkeolog Hariani Santiko

oleh: rachli Life Style Thursday, 24 November 2022 12:00 p.m.


Mancode - The 11th Borobudur Writes and Cultural Festival (BWCF) kembali digelar secara virtual pada 24-27 November 2022. BWCF merupakan forum untuk mengkaji ulang pemikiran-pemikiran penting para cendikia yang telah melakukan kajian serius dan ilmiah terhadap sejarah dan budaya nusantara kuno.

BWCF kali ini mengangkat pemikiran (alm) Prof Dr Hariani Santiko, yang merupakan seorang arkeolog penting di Indonesia. Lahir di Pacitan pada 1940, Hariani Santiko mengabdi di jurusan arkeologi UI dan mengajar arkeologi klasik Hindu-Buddha.

Kajian-kajian arkeologi yang dilakukan oleh Hariani Santiko di UI sangat dalam, karena beliau menguasai bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. “Kedudukan Batari Durga Di Jawa Pada Abad X-XV Masehi” pada 1987 menjadi disertasi langka dan ditulis dengan standart ilmiah yang tinggi.


Kultus terhadap Durga menurut Hariani Santiko merupakan bagian dari kultus dewi ibu pada masyarakat agraris. Durga adalah ibu dunia (jagadamba) penyebab adanya nama dan rupa karena Durga adalah Sakti (kekuatan atau tenaga) Siwa saat mencipta.

Durga adalah pelindung manusia dari ancaman mara bahaya, bertugas melindungi manusia dari kesulitan yang ditimbulkan oleh serangan musuh atau orang jahat. Durga sendiri berarti benteng atau yang memusnahkan kesulitan-kesulitan atau halangan.

Disertasi ini penting karena menyajikan data dan analisa mengenai arca-arca Durga di Jawa Tengah dan Jawa Timur di zaman kuno. Disertasi ini juga bermanfaat karena darinya kita bisa memahami salah satu unsur keagamaanterkuat yang pernah berkembang di Jawa kuno.

Selain itu, disertasi ini sifatnya internasional karena darinya kita bisa memperbandingkan dengan Durga di India kuno atau bahkan India sekarang atau Bali sekarang.

Adalah fakta peninggalan arca Durga Mahisasuramardini (Durga pembunuh asura yang berwujud kerbau) sangat banyak jumlahnya di Jawa. Yang tertua diperkirakan berasal dari sekitar abad VIII masehi sementara yang termuda dari masa zaman Majapahit sekitar XV Masehi.

Walau dipertahankan pada 1987, disertasi ini masih bisa menjadi landasan bagi siapa saja yang ingin mengkaji persoalan Durga di nusantara. Saat menyusun disertasi pada 1980-1981, Hariani Santiko melakukan penelitian mengenai Worship of the Goddess Durga in the Hindu Religion and Philosophy di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London - KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies - Instituut Kern, Universiteit Leiden.

Sebagai Akademisi dan Arkeolog Hariani Santiko memiliki minat dan spesialisasi pada studi mengenai Arkeologi masa Hindu-Buddha, Candi, Arsitektur Candi, dan Arca Kuno, serta menguasai Bahasa Sansakerta. Banyak artikel ilmiah dari Hariani Santiko yang telah dan belum dipublikasinya.

Artikel ilmiah yang belum dipublikasikan salah satunya seperti “Mengapa Jayabhaya dianggap sebagai Pencipta Pralambang (Ramalan) Djajabaja”? (“Why is king Jayabhaya considered as the author of “Pralambang Djajabaja”) Dalam Mimbar Ilmu IKIP Malang no.I, Th 2, Maret 1968.

Baca Juga: The 11th Borobudur Writes and Cultural Festival Kembali Digelar

Baca Juga: Siniar Salihara: Melihat Polemik Kebudayaan dan Sastra 1950-1980

Baca Juga: Titimangsa dan Indonesia Kaya Sukses Pentaskan Teater Sundamala




Share To


rachli

rachli

Nov. 24, 2022, noon


tags : Hariani Santiko BWCF The 11th Borobudur Writes and Cultural Festival Borobudur Arkeolog


Average: 0
Rating Count: 0
You Rated: Not rated

Please log in to rate.



Comments


Please Login to leave a comment.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA